KPK Tonton Video Ahok Rapat Raperda Melalui Youtube

May 11, 2016 - tonton

JAKARTA – Sebagai bagian dari pemeriksaan, penyidik KPK terlebih dahulu menonton video penentuan kontribusi tambahan sebesar 15 persen yang digelar Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Video rapat ini diketahui rutin diunggah Ahok ke situs Youtube.

Dalam pemeriksaan selama kurang lebih 8 jam kemarin, Ahok mengaku ditanya mengenai mekanisme penentuan angka 15 persen tersebut. Menurutnya, angka itu lahir dari analisis konsultan.

“Ditanya juga darimana datangnya saya bilang, enggak tahu juga. Kan ada konsultan yang hitung-hitung.

Mereka juga tahu kok. Mereka hanya mau cranky check aja, ‘darimana dasarnya?’ Saya bilang saya dengar waktu dipaparan, di saya kebetulan ada videonya, untung. Kan kita untung tiap rapat ada videonya nih dan di Youtube kan. Jadi Youtube ini udah kita kirim ke KPK,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (11/5/2016).

Ahok juga mengaku ditanya mengenai, ketidakhadiran pihak swasta dalam rapat tersebut. Ia mengatakan, sengaja tak mengundang pihak swasta karena sudah pasti tidak hadir.

“Jadi KPK juga sudah nonton bagaimana proses kita menentukan 15 persen, bukan saya yang menentukan, mereka paparan lalu cuma ditanya gini ‘kenapa waktu paparan itu tidak mengajak pihak swasta?’ soalnya pihak swasta kan masih nolak, kenapa diajak? Jadi ini keputusan kami gitu lho,” papar dia.

Diketahui sebelumnya, dalam breeze Raperda terkait reklamasi yang diusulkan Pemprov DKI, ada usulan tambahan kontribusi sebesar 15 persen bagi pengembang reklamasi. Rumus menghitung tambahan kontribusi tersebut yakni, 15 persen dikali nilai jual objek pajak (NJOP) dikali area terjual (saleable area).

Ahok mengaku memilih rumusan ini daripada bagi hasil, karena dinilai lebih menguntungkan bagi Pemprov DKI.

“Kenapa pilih 15 persen dikali NJOP dibanding pembagian keuntungan? Nah saya jawab, kalau bagi keuntungan, pengusaha kalau dia bohong untungnya kecil gimana? kalau dia send pricing misal dia kerjasama sama perusahaan kita dia bilang cuma untung 10 perak, padahal dia jual keperusahaan ini untungnya 100. 100 ini enggak berbagi,” jelas dia.

“Makanya saya bilang lebih baik pakai NJOP. Kalau bilang 15 persen kali NJOP, kamu mau kapan pun, makin lama kamu menyerahkan, utangmu makin besar. Jadi kayak-kayak itulah yang ditanya,” tutup Ahok.

More tonton ...

› tags: tonton /